Saturday, 20 September 2008 (sumber : sumeks.co.id)
SERANGAN asma atau biasa disebut bengek, diawali oleh faktor-faktor pemicu yang membuat penyakit ini kambuh. Dengan mengetahui, mengenal serta memahami faktor-faktor pemicu timbulnya serangan asma itu, maka penderita dapat mengkontrol agar asmanya tidak sering kambuh. Hal ini ditegaskan Dr Zen Ahmad SpPD-KP ditemui diruang kerjannya, kemarin.
Konsultan Penyakit Paru RSMH Palembang ini, Faktor-faktor pemicu serangan asma pada setiap penderita asma tidaklah sama. Faktor pemicunya dapat berupa alergi, emosi, perubahan udara, infeksi, makanan, kelelahan, obat-obatan maupun asap rokok. “Sebagian besar serangan asma dapat dicegah dengan menghindari faktor-faktor pemicunya tadi. Dengan mempunyai kesadaran yang penuh dari penderita asma untuk mengontrol faktor pemicunya kambuhan yang sering terjadi dan membahayakan penderita tersebut dapat dihindari,” ujarnya.
“Dengan mengetahui secara jelas penyakit yang di deritanya akan terbentuk sebuah motivasi positif dalam diri pasien dan keluarga untuk segera mungkin mengatasi asma yang diderita,” jelasnya.
Lebih jauh Zen menerangkan, asma adalah penyakit peradangan pada saluran nafas yang kronik. Asma dapat juga diartikan dengan adanya reaksi bronkus yang berlebihan atau hiperaktivitas bronkus. Biasanya seseorang yang berpenyakit asma akan mengeluhkan sesak nafas, nafas berbunyi "ngik-ngik", batuk, dan rasa tidak enak di dada. Serangan ini biasanya sering terjadi pada malam hari atau menjelang subuh/pagi hari.
Dalam tubuh, kata Zen pipa saluran nafas jika masuk ke dalam paru-paru akan bercabang-cabang menjadi ribuan pipa-pipa atau saluran nafas yang sangat kecil. Pada penderita asma saluran inilah yang mengalami penyempitan.
Penyempitan ini, lanjutnya bisa disebabkan oleh mengerutnya otot-otot yang melingkari saluran nafas. Membengkak dan meradangnya jaringan sekitar selaput lendir saluran nafas tersebut. Serta meningkatnya produksi lendir atau dahak. Sehingga mengganggu ke saluran nafas. Akibatnya, aliran udara yang masuk maupun yang keluar dari paru-paru terhambat dan terganggu. “Dalam kondisi inilah mulai terasa sesak nafas dan serangan asma mulai terjadi,” jelasnya.
Asma adalah penyakit yang banyak diderita oleh sebagian besar masyarakat. Terutama adalah anak-anak. Penyakit sangat berkaitan erat dengan faktor keturunan. Bila salah satu atau kedua orangtua, maupun kakek atau nenek menderita asma, maka sang anak pun kemungkinan akan menderita asma. Tetapi banyak juga terjadi ketika kedua orang tua tidak menderita asma, tetapi anaknya asma.
’’Selain disebabkan faktor keturunan, faktor pemicu lain dapat memicu timbulnya asma. Seperti faktor alergi yang dimiliki oleh seseorang dan juga faktor lingkungan,” terang Zen.
Untuk mengetahui penyakit sama ini terkadang agak sulit. Apalagi jika serangan asma sedang tidak datang menyerang. Tiap penderita dapat menunjukkan gejala asma yang berbeda-beda. Misalnya saja, seorang anak dapat batuk setiap malam tapi sehat di siang hari. Ada juga yang mengeluhkan sesak yang sering timbul. Bila gejala-gejala ini berlangsung lama, bawalah si kecil periksa ke dokter.
“Dugaan seseorang menderita asma, biasanya dokter akan melakukan serangkaian tanya-jawab dan pemeriksaan. Mulai dari riwayat keluarga yang menderita asma, riwayat alergi, pemeriksaan fisik, pemeriksaan tambahan seperti pemeriksaan darah dan foto ronsen, dan test alergi,”terangnya.
Test spirometri, dimana sang anak harus meniup dengan mulut sekuat-kuatnya melalui corong yang dihubungkan dengan alat spirometri tersebut. Alat ini akan menganalisa aliran udara yang keluar dari saluran nafasnya.
Setelah didiagnosa pasti menderita asma, maka keluarga maupun penderita dapat mempelajari bagaimana mengontrol asma tersebut, bagaimana mencegah agar serangan asma tidak muncul, dan apa yang harus dilakukan saat serangan tersebut muncul.
SERANGAN asma atau biasa disebut bengek, diawali oleh faktor-faktor pemicu yang membuat penyakit ini kambuh. Dengan mengetahui, mengenal serta memahami faktor-faktor pemicu timbulnya serangan asma itu, maka penderita dapat mengkontrol agar asmanya tidak sering kambuh. Hal ini ditegaskan Dr Zen Ahmad SpPD-KP ditemui diruang kerjannya, kemarin.
Konsultan Penyakit Paru RSMH Palembang ini, Faktor-faktor pemicu serangan asma pada setiap penderita asma tidaklah sama. Faktor pemicunya dapat berupa alergi, emosi, perubahan udara, infeksi, makanan, kelelahan, obat-obatan maupun asap rokok. “Sebagian besar serangan asma dapat dicegah dengan menghindari faktor-faktor pemicunya tadi. Dengan mempunyai kesadaran yang penuh dari penderita asma untuk mengontrol faktor pemicunya kambuhan yang sering terjadi dan membahayakan penderita tersebut dapat dihindari,” ujarnya.
“Dengan mengetahui secara jelas penyakit yang di deritanya akan terbentuk sebuah motivasi positif dalam diri pasien dan keluarga untuk segera mungkin mengatasi asma yang diderita,” jelasnya.
Lebih jauh Zen menerangkan, asma adalah penyakit peradangan pada saluran nafas yang kronik. Asma dapat juga diartikan dengan adanya reaksi bronkus yang berlebihan atau hiperaktivitas bronkus. Biasanya seseorang yang berpenyakit asma akan mengeluhkan sesak nafas, nafas berbunyi "ngik-ngik", batuk, dan rasa tidak enak di dada. Serangan ini biasanya sering terjadi pada malam hari atau menjelang subuh/pagi hari.
Dalam tubuh, kata Zen pipa saluran nafas jika masuk ke dalam paru-paru akan bercabang-cabang menjadi ribuan pipa-pipa atau saluran nafas yang sangat kecil. Pada penderita asma saluran inilah yang mengalami penyempitan.
Penyempitan ini, lanjutnya bisa disebabkan oleh mengerutnya otot-otot yang melingkari saluran nafas. Membengkak dan meradangnya jaringan sekitar selaput lendir saluran nafas tersebut. Serta meningkatnya produksi lendir atau dahak. Sehingga mengganggu ke saluran nafas. Akibatnya, aliran udara yang masuk maupun yang keluar dari paru-paru terhambat dan terganggu. “Dalam kondisi inilah mulai terasa sesak nafas dan serangan asma mulai terjadi,” jelasnya.
Asma adalah penyakit yang banyak diderita oleh sebagian besar masyarakat. Terutama adalah anak-anak. Penyakit sangat berkaitan erat dengan faktor keturunan. Bila salah satu atau kedua orangtua, maupun kakek atau nenek menderita asma, maka sang anak pun kemungkinan akan menderita asma. Tetapi banyak juga terjadi ketika kedua orang tua tidak menderita asma, tetapi anaknya asma.
’’Selain disebabkan faktor keturunan, faktor pemicu lain dapat memicu timbulnya asma. Seperti faktor alergi yang dimiliki oleh seseorang dan juga faktor lingkungan,” terang Zen.
Untuk mengetahui penyakit sama ini terkadang agak sulit. Apalagi jika serangan asma sedang tidak datang menyerang. Tiap penderita dapat menunjukkan gejala asma yang berbeda-beda. Misalnya saja, seorang anak dapat batuk setiap malam tapi sehat di siang hari. Ada juga yang mengeluhkan sesak yang sering timbul. Bila gejala-gejala ini berlangsung lama, bawalah si kecil periksa ke dokter.
“Dugaan seseorang menderita asma, biasanya dokter akan melakukan serangkaian tanya-jawab dan pemeriksaan. Mulai dari riwayat keluarga yang menderita asma, riwayat alergi, pemeriksaan fisik, pemeriksaan tambahan seperti pemeriksaan darah dan foto ronsen, dan test alergi,”terangnya.
Test spirometri, dimana sang anak harus meniup dengan mulut sekuat-kuatnya melalui corong yang dihubungkan dengan alat spirometri tersebut. Alat ini akan menganalisa aliran udara yang keluar dari saluran nafasnya.
Setelah didiagnosa pasti menderita asma, maka keluarga maupun penderita dapat mempelajari bagaimana mengontrol asma tersebut, bagaimana mencegah agar serangan asma tidak muncul, dan apa yang harus dilakukan saat serangan tersebut muncul.



2:54 AM
Nevicute
Posted in:
0 comments:
Post a Comment