Sep 23, 2008

Gemuk, Makin Dini Kena Serangan Jantung

Tuesday, 16 September 2008 (sumber : sumeks.co.id)

SEBUAH studi mengungkapkan, semakin gemuk seseorang, risiko serangan jantung semakin dini terjadi.

''Pada dasarnya, kejadian serangan jantung meningkat dramatis pada orang yang obesitas secara progresif,'' kata dr Eric D. Peterson, guru besar divisi Kardiologi di Duke University Medical Center, Amerika Serikat.

Spesialis jantung dari beberapa institusi melakukan studi yang melibatkan 111.000 pengidap serangan jantung, terutama dikaitkan dengan angka indeks massa tubuh (IMT). Rata-rata serangan jantung dialami orang dengan IMT 18,5 (berat badan normal) pada usia 74,6 tahun. Orang dengan IMT 40 atau lebih (obesitas) mengalaminya pada umur 58,7 tahun.

Usia kejadian serangan jantung pertama maju seiring dengan peningkatan IMT. Yakni, 3,5 tahun lebih cepat pada IMT 25-30; maju 6,8 tahun untuk IMT 30-35; 9,4 tahun lebih cepat untuk IMT 35-40; dan 12 tahun lebih dini untuk IMT 40 atau lebih.

Alasan perbedaan itu, kelompok obesitas memiliki beberapa faktor risiko serangan jantung. Misalnya, diabetes, kadar kolesterol tinggi, serta kadar gula darah tinggi. ''Menambahkan faktor tersebut, kelebihan berat badan menjadi risiko yang tak mungkin diabaikan.''(hdn/ign/nda)

Kenali Faktor Pemicu Asma Anda

Saturday, 20 September 2008 (sumber : sumeks.co.id)

SERANGAN asma atau biasa disebut bengek, diawali oleh faktor-faktor pemicu yang membuat penyakit ini kambuh. Dengan mengetahui, mengenal serta memahami faktor-faktor pemicu timbulnya serangan asma itu, maka penderita dapat mengkontrol agar asmanya tidak sering kambuh. Hal ini ditegaskan Dr Zen Ahmad SpPD-KP ditemui diruang kerjannya, kemarin.
Konsultan Penyakit Paru RSMH Palembang ini, Faktor-faktor pemicu serangan asma pada setiap penderita asma tidaklah sama. Faktor pemicunya dapat berupa alergi, emosi, perubahan udara, infeksi, makanan, kelelahan, obat-obatan maupun asap rokok. “Sebagian besar serangan asma dapat dicegah dengan menghindari faktor-faktor pemicunya tadi. Dengan mempunyai kesadaran yang penuh dari penderita asma untuk mengontrol faktor pemicunya kambuhan yang sering terjadi dan membahayakan penderita tersebut dapat dihindari,” ujarnya.
“Dengan mengetahui secara jelas penyakit yang di deritanya akan terbentuk sebuah motivasi positif dalam diri pasien dan keluarga untuk segera mungkin mengatasi asma yang diderita,” jelasnya.
Lebih jauh Zen menerangkan, asma adalah penyakit peradangan pada saluran nafas yang kronik. Asma dapat juga diartikan dengan adanya reaksi bronkus yang berlebihan atau hiperaktivitas bronkus. Biasanya seseorang yang berpenyakit asma akan mengeluhkan sesak nafas, nafas berbunyi "ngik-ngik", batuk, dan rasa tidak enak di dada. Serangan ini biasanya sering terjadi pada malam hari atau menjelang subuh/pagi hari.
Dalam tubuh, kata Zen pipa saluran nafas jika masuk ke dalam paru-paru akan bercabang-cabang menjadi ribuan pipa-pipa atau saluran nafas yang sangat kecil. Pada penderita asma saluran inilah yang mengalami penyempitan.
Penyempitan ini, lanjutnya bisa disebabkan oleh mengerutnya otot-otot yang melingkari saluran nafas. Membengkak dan meradangnya jaringan sekitar selaput lendir saluran nafas tersebut. Serta meningkatnya produksi lendir atau dahak. Sehingga mengganggu ke saluran nafas. Akibatnya, aliran udara yang masuk maupun yang keluar dari paru-paru terhambat dan terganggu. “Dalam kondisi inilah mulai terasa sesak nafas dan serangan asma mulai terjadi,” jelasnya.
Asma adalah penyakit yang banyak diderita oleh sebagian besar masyarakat. Terutama adalah anak-anak. Penyakit sangat berkaitan erat dengan faktor keturunan. Bila salah satu atau kedua orangtua, maupun kakek atau nenek menderita asma, maka sang anak pun kemungkinan akan menderita asma. Tetapi banyak juga terjadi ketika kedua orang tua tidak menderita asma, tetapi anaknya asma.
’’Selain disebabkan faktor keturunan, faktor pemicu lain dapat memicu timbulnya asma. Seperti faktor alergi yang dimiliki oleh seseorang dan juga faktor lingkungan,” terang Zen.
Untuk mengetahui penyakit sama ini terkadang agak sulit. Apalagi jika serangan asma sedang tidak datang menyerang. Tiap penderita dapat menunjukkan gejala asma yang berbeda-beda. Misalnya saja, seorang anak dapat batuk setiap malam tapi sehat di siang hari. Ada juga yang mengeluhkan sesak yang sering timbul. Bila gejala-gejala ini berlangsung lama, bawalah si kecil periksa ke dokter.
“Dugaan seseorang menderita asma, biasanya dokter akan melakukan serangkaian tanya-jawab dan pemeriksaan. Mulai dari riwayat keluarga yang menderita asma, riwayat alergi, pemeriksaan fisik, pemeriksaan tambahan seperti pemeriksaan darah dan foto ronsen, dan test alergi,”terangnya.
Test spirometri, dimana sang anak harus meniup dengan mulut sekuat-kuatnya melalui corong yang dihubungkan dengan alat spirometri tersebut. Alat ini akan menganalisa aliran udara yang keluar dari saluran nafasnya.
Setelah didiagnosa pasti menderita asma, maka keluarga maupun penderita dapat mempelajari bagaimana mengontrol asma tersebut, bagaimana mencegah agar serangan asma tidak muncul, dan apa yang harus dilakukan saat serangan tersebut muncul.

Parasetamol Tingkatkan Risiko Asma Anak

Monday, 22 September 2008

Jangan sembarangan memberikan parasetamol, atau obat yang mengandung parasetamol, kepada bayi. Sebab, hal itu meningkatkan risiko asma dan eksem saat si kecil menginjak usia enam atau tujuh tahun.

Paling tidak, begitulah menurut hasil studi atas anak-anak di 31 negara yang dimuat jurnal Lancet terbaru. Menurut studi atas 205.000 anak tersebut, pemakaian parasetamol pada tahun pertama usia si kecil meningkatkan risiko asma hingga 46 persen saat anak berusia 6-7 tahun.

Obat yang juga dikenal dengan nama asetaminofen ini biasa dipakai untuk meredakan demam dan sakit kepala ringan. Pada anak, obat tersebut diproduksi dalam bentuk sirup.

Studi itu menemukan, pemanfaatan parasetamol secara medium dalam 12 bulan terakhir meningkatkan risiko asma hingga 61 persen. Sedangkan pemakaian obat ini sekali sebulan atau lebih dalam setahun terakhir meningkatkan risiko hingga tiga kali lipat. (RTR/ign)

Sumber : www.sumeks.co.id

Nyeri Kepala, Gejala Tumor Otak

Monday, 22 September 2008 (sumber sumeks.co.id)

APA yang dialami presenter dan aktor Gugun Gondrong (39) hendaknya menjadi perhatian kita. Sebab, sebelum tak sadarkan diri, Gugun sering pusing yang teramat sangat. Karena itu, kita perlu mewaspadai kalau sering mengalami nyeri kepala hebat.
Dr Rasrinam SpS mengatakan sakit kepala merupakan salah satu gejala awal tumor otak. “Saya tidak tahu apa yang diderita Gugun itu, karena saya tidak periksa. Selain itu dokter juga tidak boleh beropini. Cuma yang saya tahu jika sakit kepala dan tiba-tiba pingsan seperti itu banyak sekali penyebabnya, salah satunya karena tumor otak, “ kata dr Rasniram SpS ditemui di RSMH, Sabtu (20/9).
Menurutnya, nyeri kepala itu ada banyak macamnya. Di antaranya adalah migran, nyeri kepala tipe tegang, nyeri kepala akibat trauma kepala, nyeri kepala akibat infeksi, dan nyeri kepala akibat gangguan metabolik. Selain itu juga peninggian tekanan di otak atau dikenal dengan tumor otak seperti yang dialami Gugun.
Ia menjelaskan, nyeri kepala biasanya sulit digambarkan dan bervariasi. Mulai dari yang ringan dan episodic. Sampai berat dan berdenyut atau meletup. Umumnya bertambah berat pada malam, saat bangun pagi dan saat perubahan posisi.
“Sedangkan jika dilihat dari waktu dan lamanya serangan, nyeri kepala dapat dibagi atas nyeri kepala akut dan kronis,” jelasnya.
Perempuan yang akrab disapa Ras mengatakan, gejala tumor otak itu tergantung letak dan kecepatan pertumbuhannya. Namun gejalanya muncul secara tersamarBiasanya dimulai dengan gangguan mental ringan. Dan hanya dapat dirasakan oleh orang yang berhubungan dekat dengan penderita. Seperti mudah tersinggung, emosinya labil, pelupa, lamban dan kurang inisiatif, serta depresi.
Pada penderita tumor otak, nyeri kepala disebabkan pembengkakan lokal sekitar tumor. Atau akibat kerusakan pembuluh darah sekitar tumor, dan akhirnya disebabkan oleh tekanan tinggi di dalam kepala.
Selain nyeri kepala, katanya, pada tumor otak juga ditemukan gejala mual muntah. Terutama jika lokasi tumor di bagian belakang. Kejang- kejang, dan mengalami gangguan penglihatan serta kelemahan saraf lainnya.“Penderita biasanya datang ke dokter dengan keluhan nyeri kepala di daerah depan (dahi) dan kepala belakang, yang biasanya sudah berlangsung lama dan progresif,” katanya
Kebanyakan, lanjutnya nyeri kepala merupakan gejala yang ringan, namun dapat juga sebagai gejala suatu penyakit yang serius atau berbahaya, misalnya apabila nyeri kepala hebat secara tiba-tiba, bertambah berat dan progresif, disertai kejang dan pingsan, terjadi saat aktifitas dan gangguan penglihatan.
Oleh karena itu, nyeri kepala harus ditangani secara komprehensif. Tidak hanya mengobati gejala atau keluhannya saja. Tetapi juga dengan mendeteksi dan menyingkirkan penyebab terjadinya keluhan tersebut. Penggunaan obat nyeri kepala yang tidak tepat dan berlebihan akan menimbulkan ketergantungan dan nyeri kepala susulan yang berkepanjangan. (21)

 
Design by Wordpress Theme | Bloggerized by Free Blogger Templates | free samples without surveys